Filologi : Perjalanan Suci Ke Selatan Mencari Keanugrahan

Gambar : lontar (tanpa nama) milik keluarga I Ketut Alit. 

Oleh I Putu Lanang Wijidyatmika

        Dalam artikel sebelumnya yang berjudul "Perjalanan Suci Ke Utara Mencari 'Kitab Suci'", telah diceritakan ihwal bagaimana perjalanan yang saya lakukan ketika mencari lontar (kitab suci) sebagai pemenuhan tugas kuliah. Namun, di artikel ini yang merupakan tugas lanjutan dari artikel sebelumnya, saya ingin menceritakan sekilas ihwal perjalanan suci ke selatan. Terkait dengan arah di tiap-tiap tajuk artikel ini merupakan arah yang sebenarnya. Saya tidak bermaksud untuk membuat konteks pembahasan ini terlihat seperti hanya gurauan semata. Kalau pada artikel sebelumnya membahas filosofi dari perjalan suci ke utara-yang memang sengaja diambil dari tajuk salah satu film garapan Cina, maka dalam artikel ini akan membahas mengenai perjalanan yang memang benar dilakukan ke selatan untuk mencari suatu "berkah". Oleh karena itu, saya memilih tajuk "Perjalanan Suci Ke Selatan Mencari Keanugrahan" untuk artikel ini, yang akan dibahas berikut ini. 

        Takepan - yang berangka tahun tidak diketahui- ini merupakan peninggalan dari Hyang Pitara (Almarhum) I Ketut Alit, yang sekaligus merupakan kakek kandung saya. Sebenarnya, terdapat setidaknya tujuh buah takepan yang dibungkus dengan kain hitam menjadi satu dengan takepan-takepan lainnya. Tetapi, saya lebih tertarik kepada takepan ini, sebab ketika saya membaca sekilas, di lintihan pertama (lintihan- lembaran daun rontal) saya menemukan penggalan cerita yang menarik. Dalam lintihan itu diceritakan ihwal perjalanan seorang Brahmana, seorang utusan dari Kerajaan Karangasem, Bali datang ke Pulau Mirah, Lombok. Utusan itu datang dengan misi untuk nggebug (pelafalan secara fonemik : /ŋgəbUg/, yang berarti 'menginvasi') Raja Silaparang. Bhatara Ketut Sebali (pelafalan secara fonemik :/batarə kətUt səbalɪ/), sebuah nama yang tercantum dalam lontar itu memulai perjalanannya di Pulau Mirah dari pelabuhan Ampenan. Berjalan ke arah selatan bersama dengan dua ratus orang yang ikut dengan beliau, beriringan hingga sampai di Padang Reyak. 

        Perjalanan beliau bersama rombongan dilanjutkan menuju Gunung Parampuan (sampai di sini saya mendapatkan sebuah informasi sekaligus pengetahuan baru ihwal sejarah tanah kelahiran saya, Pulau Mirah ini. Bagaimana tidak? Pertama, dalam penggalan cerita di atas, pada kosakata yang sengaja saya garis bawahi, yaitu kata "silaparang". Kata itu merujuk ke Kerajaan Selaparang saat ini. Namun, yang unik adalah ternyata dahulu nama Kerajaan Selaparang : silaparang, yang bisa saja akibat dipengaruhi oleh perubahan pelafalan bunyi /ɪ/ menjadi bunyi /ə/. Kedua, dahulu gunung yang ada di Desa Parampuan ini dalam lelintihan itu disebut "Gunung Parampuan, yang kemudian dikenal dengan nama "Gunung Pengsung").

        Setiba mereka di Desa Parampuan-sebelum menuju gunung itu, Bhatara Ketut Sebali beserta rombongan beristirahat untuk menikmati (merayuan) bekal yang telah dibawa. Di desa itu, dekat dengan kaki gunung Parampuan terdapat pedagang yang menjual a kelan tipat sajeng (enam ikat ketupat), kuskus barak gading, pisang mas, dan woh-wohan (buah-buahan). Semua yang saya sebutkan itu adalah peranti persembahyangan. Semua peranti itu telah siap dan lengkap, tinggal dihaturkan. 

        Bhatara Ketut Sebali bertanya kepada pedagang tersebut, "Yang mana disebut Gunung Pengsung?" Gunung itu terlihat dari tempat mereka bercakap-cakap. Terdapat jalan setapak yang dapat dilalui untuk menaiki gunung itu. Melihat keramaian pemedek (pelafalan fonemik : /pəmədə?/, yang berarti 'umat yang akan bersembahyang') yang tidak henti-hentinya datang silih berganti, kemudian beliau pergi menuju gunung itu. Dengan membawa banten (pelafalan fonemik : /bantən/, yang berarti 'sajian untuk persembahyangan') tersebut tadi, beliau bersama-sama dengan rombongan melakukan persembahyangan di Pura Gunung Pengsung tersebut. Meminta izin sebelum nggebug Kerajaan Selaparang. Dalam kisah di lelintihan takepan itu, saya hanya berkesempatan untuk membaca sampai bagian ini. 

        Akan tetapi, dahulu saya sempat menjadi seorang dalang dalam pementasan fragmentari yang menceritakan ihwal kisah yang sama, invasi Kerajaan Karangasem ke Lombok, dalam versi babad Bali. Konon, dikisahkan dalam babad Bali itu, Ida Ketut Sebali (nama lain dari Bhatara Ketut Sebali) sebelum memimpin invasi ke Kerajaan Selaparang, beliau bersama rombongan melakukan persembahyangan di Pura Gunung Pengsung dengan membawa banten yang sama seperti di atas. Setelah itu, Ida Ketut Sebali mendapatkan wangsit dari Ida Sang Hyang Widhi untuk mengikuti seekor kijang emas menaiki jalan setapak gunung itu. Singkat cerita, setibanya beliau di tempat tujuan, beliau mendapat sehelai kain kuning emas, yang dalam wangsit itu mengatakan bahwa kain ini merupakan senjata kekebalan untuk mengalahkan musuh. Kemudian, pada akhirnya dikisahkan juga bahwa Kerajaan Selaparang mampu ditaklukan oleh Kerajaan Karangasem. 

        Kemenangan Kerajaan Karangasem yang dipimpin oleh Bhatara Ketut Sebali atau Ida Ketut Sebali tidak terlepas dari anugrah yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi, terlepas dari kebenaran ihwal kesaktian kain itu, tetapi sejarah telah mencatatnya. Jatuhnya Kerajaan Selaparang, yang kemudian Lombok saat itu sempat dipimpin oleh Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, Raja Karangasem melahirkan akulturasi peradaban, baik kebudayaan maupun keturunan (saya ingin mengatakan bahwa tidak elok jika saya menyatakan diri sebagai keturunan Bali asli, saya adalah orang Sasak yang beragama Hindu). Oleh karena itu, perjalanan yang dilakukan oleh para utusan Kerajaan Karangasem ke arah selatan sebelum menyerbu Kerajaan Selaparang adalah perjalanan suci untuk mencari keanugrahan sejati. 

Komentar

  1. uraian yang cukup panjang namun memberika informasi yang menarik.

    BalasHapus
  2. Kata Yusuf:
    Artikel ini mengajarkan ku arti sebuah kenyamanan, keamanan, ketertiban, kemanusiaan, keteraturan, kerapian, kerajinan, kesopanan, kebersihan, keberanian, kekeliruan, keharmonisan, kesusilaan, kehausan, kelaparan, kemungkaran, kezoliman, keberpihakan, kecurangan, kepintaran, kebodohan, ketepatan, kelincahan, kegesitan, kekuatan, kemusyawaratan, kebablasan, kerinduan, kecintaan, kedinginan, kepanasan, kesiangan, ketindihan, ketiduran, kemasyarakatan, kejombloan, kepolosan, kelicikan, kekerabatan, kekeluargaan, keberlangsungan, kemaslahatan, kesehatan, kesakitan, ketekunan, kemanusiaan, keharuman, kebauan, kelemahan, kelebihan, kegagalan, keberhasilan, kepergian, keberangkatan, kegagapan, kecepatan, kelancaran, kemerosotan, kepercayaan, kesiapan, kesigapan, kebangkrutan, kesuksesan, kelonggaran, kecapekan, kelelahan, kecurigaan, kehalusan, kekerasan, keceriaan, kemurungan, kesedihan, keselamatan, kekonyolan, kelucuan, keseriusan, kebangkitqn, kehancuran, kesengsaraan, kedamaian, kemapanan, kegensutan, kelangsingan, kekecilan, kebesaran, keberadaan, keberagaman, kebohongan, kesurupan, kesemutan, keindahan, kejelakan, keterkaitan, keterikatan, kesewenang-wenangan, keteraturan, kecolongan, ketampanan, kesempurnaan cintaaaaa teh kotakk


    Wkwkwk ehehehe


    Mantap, Nang! Sy berasa baca buku sejarah

    BalasHapus

Posting Komentar